“Dan dia (Ya’qub) berkata, ‘Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda-beda…'”
(Q.S. Yusuf: 67)
Risiko Konsentrasi Pasar dan Titik Kritis Perdagangan Luar Negeri Indonesia
Ketidakstabilan geopolitik global yang diiringi perang dagang hingga disrupsi rantai pasok global berpotensi mengganggu kestabilan ekonomi bagi banyak negara di dunia termasuk para mitra dagang Indonesia. Saat ini, Indonesia memiliki beberapa mitra dagang yang merupakan negara dengan dominasi terbesar pada ekonomi dan politik global seperti Tiongkok dan Amerika Serikat. Data BPS periode 2025 hingga awal 2026 menunjukkan bahwa Tiongkok dan Amerika Serikat masih mendominasi pangsa ekspor Indonesia, dengan proporsi masing-masing sebesar 23,77% dan 10,98%. Tidak hanya itu, pangsa impor Indonesia juga didominasi oleh beberapa negara, seperti Tiongkok dan Singapura dengan persentase impor tertinggi Indonesia dari Tiongkok sebesar 36,37% dan dari Singapura sebesar 7,91%. Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa Tiongkok merupakan mitra dagang Indonesia yang paling dominan, baik dari sisi ekspor maupun impor.
Kondisi perdagangan yang terkonsentrasi terhadap satu mitra dagang akan menimbulkan risiko Single Point of Failure (SPOF) bagi Indonesia. SPOF dapat didefinisikan sebagai suatu bagian dalam sebuah sistem yang apabila bermasalah akan memberikan dampak yang fatal bagi keseluruhan (Dooley, 2002). Konsentrasi perdagangan Indonesia terhadap Tiongkok dapat menimbulkan risiko tersebut. Sebagai contoh, pemasukan ekspor Indonesia dapat menurun jika terdapat fluktuasi permintaan dari Tiongkok, seperti perlambatan ekonomi atau perubahan kebijakan. Salah satu penyebab fluktuasi ini adalah perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang telah berlangsung selama beberapa tahun.
Berdasarkan Kemhan (2025), perang dagang yang dimulai sejak 2018 ini telah menimbulkan ketegangan ekonomi global yang ditandai dengan kedua negara yang saling menerapkan kebijakan tarif terhadap satu sama lain. Kebijakan tarif impor dari Donald Trump pada periode kedua kepemimpinannya juga berpengaruh secara signifikan terhadap harga perdagangan internasional. Dilansir dari BBC (2026), salah satu dampak dari perang dagang ini adalah semakin renggangnya hubungan perdagangan AS dan Tiongkok. Keregangan ini mencerminkan fenomena decoupling secara sistemik, di mana AS secara aktif mengurangi ketergantungan kepada manufaktur Tiongkok atas dasar keamanan nasional. Perusahaan multinasional juga terpaksa mengadopsi strategi friend-shoring—mengalihkan pusat produksi mereka ke negara-negara yang dianggap sebagai sekutu politik AS untuk menghindari hambatan tarif—karena kondisi ini. Dampak dari pergeseran struktural inilah yang kemudian ditandai dengan penurunan nilai ekspor Tiongkok ke AS sebanyak 30% pada tahun 2025. Penurunan ekspor tersebut berpotensi menekan sektor manufaktur dan investasi domestik yang dapat berdampak kepada perekonomian Tiongkok berupa tidak tercapainya target pertumbuhan ekonomi (GDP) negara tersebut, mengingat ekspor masih menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi negara tersebut (Sherman, 2026).
Kondisi perekonomian Tiongkok yang memiliki risiko perlambatan akibat guncangan seperti perang dagang dapat menimbulkan efek domino bagi mitra dagangnya, Indonesia. Hal ini sejalan dengan pernyataan Peneliti Senior CSIS, Deni Feriawan yang menyatakan bahwa perlambatan ekonomi Tiongkok dapat menyebabkan perlambatan terhadap ekonomi Indonesia (Simanjuntak, 2026). Status perlambatan perekonomian Tiongkok saat ini terlihat pada penetapan target pertumbuhan PDB China sebesar 4,5% hingga 5%. Angka tersebut merupakan target terendah sejak 1991 dan disebabkan oleh tekanan internal maupun eksternal (Widyatama, 2026). Menurut perhitungan Chatib Basri, ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, bahwa setiap perlambatan 1% ekonomi China dapat menghambat sekitar 0.3% pertumbuhan ekonomi Indonesia (Widyatama, 2026).
Tidak berhenti di situ, ketika ekonomi Tiongkok melambat, dampak paling cepat akan terasa pada permintaan terhadap barang-barang ekspor Indonesia, mengingat Tiongkok merupakan mitra ekspor terbesar Indonesia pada tahun 2025 menurut data BPS. Dari segi ekspor, permintaan terhadap komoditas dan produk yang berkaitan erat dengan aktivitas industri Tiongkok—seperti bahan baku untuk manufaktur, konstruksi, dan investasi—akan ikut melemah. Ringkasnya, perlambatan ekonomi Tiongkok dapat menghambat laju ekspor Indonesia, menekan harga komoditas, dan pada akhirnya mengurangi dorongan sektor eksternal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional (Widyatama, 2026).
Penurunan permintaan juga dapat dilihat pada menurunnya ekspor batu bara Indonesia pada semester 1 tahun 2025 sebesar 22,91%. Ditjen Minerba ESDM, Surya Herjuna, memprediksi penurunan ekspor batu bara RI ke negara tujuan (seperti Tiongkok dan India) sebanyak 20–30 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, penurunan produksi tersebut, salah satunya, disebabkan oleh peningkatan kapasitas produksi batu bara di Tiongkok. Selain itu, menurut Hendra Sinadia, Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association, produksi batu bara dalam negeri Tiongkok mencapai hampir 5 miliar ton pada tahun 2024. Hendra berpendapat bahwa kebutuhan energi Tiongkok meningkat sehingga negara tersebut memiliki kepentingan untuk memproduksi batu bara dalam negeri. Bahkan, menurut data dari National Bureau of Statistics of China, produksi batu bara Tiongkok mencapai 762.89 juta ton pada Februari 2026. Menurut analisis IEA mengenai batu bara pada tahun 2025, Tiongkok mempertahankan posisinya sebagai penghasil batu bara terbesar di dunia—menjadikan produksi batu bara sebagai salah satu strategi ketahanan energinya.
Selain perang dagang, blokade Selat Hormuz dalam konflik Iran-AS kini menjadi perhatian global karena memicu disrupsi rantai pasok yang mengguncang ketahanan ekonomi global. Berdasarkan CNBC (2026), perang AS-Iran menghambat pasokan energi minyak global akibat blokade pelabuhan-pelabuhan Iran oleh AS ataupun respons penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Hal ini mengakibatkan 20-30% pasokan energi minyak dunia yang melintasi Selat Hormuz tertahan. Tiongkok sebagai salah satu negara importir minyak terbesar juga mengalami guncangan akibat blokade tersebut. The Observatory of Economic Complexity (OEC, 2026) mencatat 26% total impor minyak Tiongkok berasal dari negara teluk yang melewati Selat Hormuz, yaitu Saudi Arabia dan Iraq. Laporan International Energy Agency (IAE, 2026) juga menunjukkan bahwa penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak global (Brent) mencapai $130/barrel. Selain itu, General Administration of Customs People’s Republic of China (GACC, 2026) juga mencatat impor minyak Tiongkok mengalami penurunan kuantitas sebesar 2,2% sekaligus penurunan daya beli (value) sebesar 4,5% per kuartal I 2026. Blokade yang menyebabkan kenaikan harga ini mendorong supply minyak maupun daya beli Tiongkok terhadap impor minyak menurun sesuai dengan hukum supply demand.
Penurunan ini mendorong Tiongkok untuk melakukan mitigasi risiko terjadinya pelemahan industri dalam negeri dengan meningkatkan pasokan komoditas lain, seperti tambang dan bijih logam. Per kuartal I 2026, impor Tiongkok terhadap tambang dan bijih logam melonjak 16,2% dari tahun sebelumnya (GACC, 2026). Peningkatan ekstrem impor Tiongkok terhadap kedua komoditas tersebut menunjukkan bahwa Tiongkok melakukan pre-stocking untuk penguatan industrial buffer sebagai mitigasi risiko ekspektasi harga komoditas tersebut akan meningkat di masa depan. Hal ini tentunya akan mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia terhadap komoditas tersebut apabila ekspor Indonesia masih terkonsentrasi pada Tiongkok. Berdasarkan CNBC (2025), Tiongkok terbukti pernah melakukan penimbunan terhadap nikel impor dari Indonesia hingga mencapai 77.654 ton pada kuartal I 2025. Strategi ini menyebabkan harga nikel di Indonesia anjlok hingga mencapai $14.615/ton (Tradingeconomics, 2026). Bukti tersebut relevan dengan kondisi saat ini, ketika Tiongkok meningkatkan impor komoditas serupa sebagai bagian dari mitigasi strategis terhadap kenaikan harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz. Hal ini akan memicu masalah baru bagi Indonesia yaitu ancaman terhadap harga dan permintaan komoditas ekspor apabila Indonesia tidak segera melakukan diversifikasi tujuan ekspor dalam ketergantungannya terhadap Tiongkok.
Selain persoalan ekspor, terdapat juga kekhawatiran atas potensi banjir impor barang Tiongkok ke negara ketiga, termasuk Indonesia. Ketakutan ini muncul karena Tiongkok mencari pasar baru setelah tidak bisa mengekspor ke AS—karena pengenaan tarif dagang hingga 245% terhadapnya. Menurut ekonom dan Guru Besar FEB UI, Telisa Aulia Falianty, Indonesia—sebagai negara dengan 280 juta jiwa dan status negara yang terus berkembang—menjadi negara pasar yang menarik bagi Tiongkok yang memiliki kapasitas ekonomi terbesar kedua setelah AS. Pertumbuhan impor RI terhadap barang-barang dari Tiongkok menjadi senilai US$ 25,77 miliar, sedangkan ekspor hanya US$ 18,87 miliar. Kondisi ini dapat memicu defisit neraca perdagangan Indonesia dengan Tiongkok karena selisih ekspor dengan impor—periode Januari-April 2025—membesar (US$ 6,28 miliar) dibandingkan periode sebelumnya (US$ 3,02 miliar). Merujuk laporan Citigroup Inc yang dikutip dari Bloomberg, nilai impor dari China ke Indonesia mencapai US$ 6,8 miliar—kenaikan 21,43% secara yoy (year-on-year). Lonjakan impor dari China ini, menurut Kepala Makroekonomi dan Keuangan Indef, adalah peringatan dini bahwa pasar Indonesia mulai dipenuhi barang-barang murah—yang dapat menjadi ancaman serius bagi struktur industri nasional. Menteri UMKM RI juga menyebutkan bahwa barang-barang dari Tiongkok masuk ke Indonesia dalam jumlah yang besar dengan harga murah sehingga “mengkanibalisasi” produk-produk lokal.
Di tengah kondisi geopolitik yang semakin multipolar, perdagangan Indonesia yang masih terkonsentrasi terhadap mitra dagang tertentu semakin memperkuat urgensi diversifikasi perdagangan. Indonesia perlu segera mengeksplorasi peluang perdagangan baru, terutama ekspor, baik dengan mitra dagang yang berada dalam satu kawasan yang sama maupun berbeda kawasan. Selain melakukan diversifikasi mitra dagang, Indonesia juga perlu meningkatkan kemandirian ekonomi dalam negeri untuk membangun fondasi ekonomi yang kuat. Sumber daya berupa komoditas mentah yang biasanya diandalkan sebagai komoditas ekspor dapat diolah di dalam negeri untuk menciptakan nilai tambah hingga menjadi produk yang lebih kompleks dengan harga jual yang lebih tinggi. Selain itu, penguatan industri dalam negeri juga dapat membantu mengurangi ketergantungan impor dari mitra dagang tertentu. Strategi ini menjadi salah satu bentuk moderasi yang tepat antara konsep autarki (kemandirian penuh) dan globalisasi (keterbukaan penuh) bagi Indonesia untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian geopolitik.
Satu Langkah Lebih Jauh untuk Ekonomi Indonesia
Langkah awal untuk menentukan negara potensial yang dapat menjadi tujuan diversifikasi ekspor Indonesia adalah dengan mengetahui terlebih dahulu produk-produk utama yang memegang porsi terbesar dalam ekspor Indonesia ke Tiongkok. Menurut data ekspor nasional tahun 2026—berdasarkan kode HS—dari BPS, komoditas ekspor utama oleh Indonesia ke Tiongkok adalah HS 72 (besi dan baja) dan HS 75 (nikel dan barang daripadanya). Selanjutnya, untuk melakukan diversifikasi, diperlukan negara-negara potensial yang juga membutuhkan komoditas-komoditas tersebut. Brasil dan Meksiko merupakan contoh negara yang berpotensi menjadi tujuan ekspor alternatif untuk nikel dan besi/baja karena posisi strategis kedua negara tersebut sebagai hub electric vehicle (EV), khususnya untuk komponen baterai.
Menurut Indonesia Mining Association (IMA), kebutuhan nikel dunia diprediksi akan mencapai lebih dari 4 juta ton pada tahun 2040, salah satunya akibat perkembangan industri EV yang cukup pesat. Proyeksi tersebut menunjukan potensi lonjakan permintaan nikel di berbagai negara yang menjadi tempat pengembangan industri EV. Dilansir dari Reuters (2023), Brasil sedang dalam proses transformasi menjadi hub EV (electric vehicle) di Amerika Latin dengan adanya penanaman modal besar dari beberapa pelaku utama industri, seperti BYD dan GWM. Meskipun telah memproduksi nikelnya secara mandiri, menurut US Geological Survey pada tahun 2024, nikel hasil produksi Brasil hanya sebesar 89.000 metrik ton—jauh di bawah Indonesia yang menghasilkan 1,8 juta metrik ton. Dengan hasil produksi yang jauh lebih kecil, kapasitas tambang domestik Brasil belum tentu cukup untuk diolah menjadi nikel yang menjadi bahan baku baterai. Selain Brasil, Meksiko juga menjadi pasar strategis bagi industri EV Tiongkok, yang dibuktikan dengan ekspor kendaraan listrik dari Tiongkok senilai US$ 4,6 miliar pada tahun 2023. Meksiko merupakan salah satu pasar utama infrastruktur pengisian daya EV, yang didorong lonjakan permintaan, keunggulan strategis, serta dukungan kebijakan pemerintah. Meksiko juga berhasil mencatatkan rekor FDI hingga mencapai US$36,9 miliar yang membuat perusahaan asing seperti Tesla dan BMW tertarik untuk berinvestasi di negara tersebut. Data-data tersebut menunjukan peluang bagi Indonesia untuk mendiversifikasi ekspor nikel dari Tiongkok ke Brasil dan Meksiko.
Selain nikel, baterai EV juga memerlukan komponen besi dan baja sebagai penutup atau case untuk melindungi komponen di dalamnya. Di samping permintaan nikel yang masif, Instituto Aço Brasil merilis laporan mengenai konsumsi semu produk besi/baja di Brasil yang mencapai 26 juta ton pada tahun 2024. Selain itu, Meksiko merupakan salah satu konsumen besi/baja terbesar di Amerika Latin dengan kebutuhan mencapai 25 juta metrik ton pada tahun 2025—sedangkan produksi domestiknya hanya sekitar 18 juta metrik ton. Selisih 7 juta metrik ton ini adalah peluang emas jika Indonesia dapat memanfaatkan ke celah tersebut dengan baik. Dengan demikian, potensi lonjakan permintaan besi/baja yang cukup tinggi menjadikan Brasil dan Meksiko sebagai tujuan ekspor alternatif yang tepat bagi Indonesia.
Gotong Royong Menembus Perekonomian Global
Penguatan kerja sama regional merupakan komponen penting dalam mendukung diversifikasi perdagangan. Penguatan kerja sama regional merupakan upaya untuk mempererat hubungan antarnegara atau wilayah yang berdekatan secara geografis melalui kebijakan atau perjanjian bersama dengan tujuan untuk memperkuat stabilitas ekonomi regional dari guncangan politik (Patnaik A.K., 2024). OEC mengungkapkan bahwa perdagangan Indonesia per Februari 2026 terkonsentrasi kepada Tiongkok dengan komoditas ekspor strategisnya, yaitu Crude Oil/Petroleum ($1.42B), Ferroalloys ($1.15B), dan Nickel Mattes ($904M). Meski kemesraan perdagangan bilateral ini memberikan kontribusi positif terhadap neraca perdagangan Indonesia hingga mencapai $644M, akan tetapi hal ini dapat menyebabkan perdagangan Indonesia semakin bergantung kepada Tiongkok, terutama di tengah ketidakstabilan geopolitik. Oleh karena itu, Indonesia perlu bersinergi dalam memperkuat kerja sama dengan blok-blok regional sekaligus bertransformasi menjadi “Connector Economy” yang menghubungkan perdagangan di blok ekonomi regional. Connector economy merupakan istilah bagi negara yang dapat menjadi penghubung antar pasar atau penghubung antar jenis transaksi (Aiyar dan Ohnsorge, 2024). Strategi ini memiliki tujuan tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai eksportir komoditas mentah, tetapi juga memberikan kontribusi positif dalam ekspor produk-produk potensial bagi setiap negara tujuan dengan pemanfaatan kerja sama regional.
Upaya dalam mewujudkan target tersebut, Indonesia dapat berkaca melalui mitra dagang dominannya sendiri, yaitu Tiongkok. Tiongkok memiliki diversifikasi perdagangan dan kerja sama regional yang kuat. National Bureau Statistics of China (NBS, 2025) menyebutkan total ekspor dan impor Tiongkok dengan negara-negara anggota Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) mencapai 13,850.5 miliar yuan atau melonjak 5,3% dari tahun sebelumnya. Tak hanya itu, kerja sama antara Tiongkok dengan ASEAN juga memberikan kontribusi positif bagi neraca perdagangan Tiongkok dengan peningkatan 15,1% total ekspor maupun impor dari tahun sebelumnya. Optimalisasi Tiongkok terhadap penguatan kerja sama regional ini memberikan nilai tambah terhadap perekonomian Tiongkok sekaligus menunjukan bahwa Tiongkok berhasil memiliki hubungan diplomasi yang baik dengan mitra dagang tujuannya. Indonesia dapat mengambil inspirasi tersebut sebagai motivasi implementasi strategi penguatan kerja sama regional untuk dapat menjangkau target mitra dagangnya, terutama Indonesia juga merupakan bagian dari ASEAN maupun RCEP.
Dalam konteks kerja sama regional, data BPS per kuartal I 2026 menunjukkan bahwa ASEAN berada di posisi kedua setelah Tiongkok sebagai mitra dagang yang memiliki persentase tujuan ekspor tertinggi bagi Indonesia. Perdagangan intra-ASEAN ini didukung oleh kebijakan ATIGA (ASEAN Trade in Goods Agreement) yang memfasilitasi tarif bea masuk 0% bagi setiap komoditas yang diekspor antarnegara anggota ASEAN (Buban, S., et al, 2021). Hal ini tentu akan memperkuat kerja sama perdagangan Indonesia apabila mampu menjangkau komoditas prioritas yang dibutuhkan oleh negara-negara ASEAN. Menurut McKinsey (2026), Perdagangan intra-ASEAN melonjak 8% dari tahun sebelumnya, termasuk bagi Vietnam dan Kamboja. Kedua negara tersebut memiliki pertumbuhan ekspor yang besar di sektor elektronik, seperti laptop, ponsel pintar, dan konsol game. Dengan top komoditas ekspor yang dimiliki, Indonesia dapat menjangkau pasar yang lebih luas dengan memahami komoditas yang dibutuhkan oleh mitra dagang tujuan. Indonesia dapat mendiversifikasi ekspor Ferroalloys maupun Nickel Mattes kepada Vietnam dan Kamboja yang membutuhkan bahan tersebut dalam produksi barang elektroniknya. Hal ini juga dilakukan sebagai bentuk penguatan perdagangan intra-ASEAN sekaligus pemanfaatan ATIGA sebagai komponen pendukung untuk mempermudah diversifikasi ekspor dan ketergantungan Indonesia terhadap Tiongkok. Selain Vietnam dan Kamboja, Indonesia dapat memperkuat penawaran ekspor yang dibutuhkan Thailand untuk produksi EV, yaitu komoditas ferroalloys dan nickel mattes yang sebelumnya masih terkonsentrasi ke Tiongkok. Berdasarkan Board of Investment Thailand (2025), Thailand memiliki target mencapai 30% produksi EV pada tahun 2030.
Selain ferroalloys dan nickel mattes, Indonesia juga dapat mengurangi porsi ekspor crude oil/petroleum ke Tiongkok saat ini dengan mengakses pasar regional, yaitu Singapura, Malaysia, dan Filipina. Ketiga negara tersebut sempat mengalami disrupsi energi akibat guncangan penutupan Selat Hormuz. Berdasarkan data Global Petrol Price per Mei 2026, harga BBM di Singapura melonjak hingga $2,42/liter. Meskipun berstatus eksportir neto minyak, Malaysia turut mengalami kenaikan harga minyak menjadi $1,02/liter, sementara Filipina menjadi negara yang terdampak paling signifikan dengan harga minyak mencapai $1,28/liter. Melihat kondisi ini, Indonesia berpeluang menjadi titik terang bagi negara tetangga dengan mendiversifikasi ekspor minyak mentah ke kawasan tersebut. Saat ini, ekspor migas Indonesia masih terkonsentrasi di Tiongkok, yang menyerap 14,95% dari total ekspor migas Indonesia pada Kuartal I tahun 2026 (BPS, 2026). Indonesia dapat mengambil langkah strategis untuk menjejaki pasar regional sekaligus memperkuat sinergitas perdagangan intra-ASEAN di tengah ketidakpastian geopolitik.
Selain kawasan ASEAN, Indonesia juga memiliki kerja sama regional dengan RCEP. Namun, berdasarkan data historis, kerja sama Indonesia dengan RCEP tidak memberikan kontribusi positif terhadap neraca perdagangan Indonesia, melainkan menyebabkan defisit neraca perdagangan mencapai 1,6% yang disertai dengan terjadinya diversifikasi perdagangan oleh negara anggota RCEP ke negara eksportir yang lebih efisien (Banga et al, 2021). Tak hanya itu, RCEP justru berdampak pada penurunan total ekspor negara ASEAN hingga mencapai kerugian $752 juta USD yang berarti negara ASEAN belum memiliki daya saing kuat untuk perdagangan di lingkup RCEP (Banga et al, 2021). Hal ini menunjukkan bahwa Rules of Origin (ROO) dalam kebijakan RCEP tidak sepenuhnya mendukung Indonesia maupun ASEAN untuk dapat berkontribusi dalam perdagangan di RCEP, terutama untuk menjadikan Indonesia sebagai connector economy.
Kondisi tersebut semakin memperkuat alasan Indonesia untuk fokus menjalin kerja sama intra-ASEAN sebagai prioritas kerja sama regional yang akan memberikan keuntungan terhadap neraca perdagangan ASEAN sekaligus untuk melindungi industri domestik ASEAN dari gempuran efisiensi ekstrim oleh negara maju di RCEP, seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea. Indonesia bisa lebih memaksimalkan manfaat dari ATIGA, seperti tarif bea masuk 0%, penyesuaian standardisasi produk yang lebih memudahkan ekspor, penggunaan ASEAN Single Window (ASW) untuk mempercepat perdagangan intra-ASEAN, serta penguatan joint assistance dan sharing knowledge. Pemanfaatan tersebut dapat menjadi strategi untuk mendorong diplomasi dengan negara-negara ASEAN yang membutuhkan komoditas mentah dari Indonesia—Crude Oil/Petroleum, Ferroalloys, dan Nickel Mattes—sekaligus memperkuat kerja sama regional intra-ASEAN.
Gerbang Perekonomian Tanpa Batas
Selain melakukan diversifikasi mitra dagang, Indonesia juga bisa mengurangi konsentrasi ekspor ke Tiongkok dengan memanfaatkan peluang relokasi rantai pasok oleh perusahaan multinasional dari Tiongkok akibat pemberlakuan tarif oleh Amerika Serikat (China +1 Strategy) untuk meningkatkan FDI. Menurut data OECD (2020) saat ini perusahaan multinasional sedang berupaya untuk merelokasi manufaktur mereka ke beberapa negara di ASEAN termasuk Indonesia. Namun, perusahaan multinasional tidak begitu melirik indonesia dan lebih memilih Vietnam dan Thailand sebagai negara tujuan relokasi mereka. Hal ini karena kedua negara tersebut memiliki biaya logistik yang lebih rendah, kondisi ekonomi dan politik yang lebih stabil, serta sumber daya manusia yang lebih baik daripada Indonesia.
Dari perspektif logistik, tercatat bahwa Indonesia merupakan negara dengan biaya logistik tertinggi di ASEAN yakni sekitar 23% dari PDB. Angka ini cukup tinggi apabila dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya seperti Vietnam yaitu sebesar 16-20% dari PDB dan Thailand sebesar 13,5% dari PDB pada tahun 2024 (Adri, 2025; Logitrack, 2025; NESDC, 2025). Terlepas dari kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan, tingginya biaya logistik di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor lainnya seperti kurangnya infrastruktur yang terintegrasi, inefisiensi dalam dalam rantai pasok, ketergantungan terhadap moda transportasi darat yang menggunakan jalan, dsb (Darmawan, 2024; Ferdianto, 2025a; Ferdianto, 2025b). Indonesia dapat mengadopsi konsep Kawasan Industri Strategis (KIS) sebagai salah satu solusi yakni pengolahan bahan mentah secara terpadu, mulai dari penyediaan bahan baku hingga tahap penyelesaian produk dalam satu kawasan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi jarak mobilitas yang berimplikasi pada pengurangan biaya logistik. Selain itu, peningkatan infrastruktur juga diperlukan agar terjadi pemerataan kualitas logistik guna mewujudkan efisiensi.
Di sisi lain, alasan mengapa perusahaan multinasional cenderung merelokasi perusahaan mereka ke Vietnam dan Thailand adalah karena alasan kepastian dan regulasi. Dari perspektif kebijakan dan regulasi, Indonesia dinilai memiliki lingkungan bisnis rumit serta proses birokrasi yang tidak mudah sehingga membuat para investor merasa enggan untuk berinvestasi di Indonesia (OECD, 2021). Rendahnya kualitas sistem regulasi di Indonesia juga didukung oleh data dari theglobaleconomy (2024) yang menyebutkan bahwa skor Regulatory Quality Index Indonesia menurun dari 0,32 menjadi 0,12 pada tahun 2024. Jika hal ini terus berlanjut, maka akan berpotensi menutup pintu investasi bagi Indonesia. Untuk mengatasinya, diperlukan beberapa upaya seperti simplikasi terhadap sistem birokrasi, menghilangkan persyaratan yang dinilai diskriminatif bagi investor asing, serta tidak mengubah peraturan secara agresif untuk memberikan kepastian kepada investor dalam jangka panjang.
Inspirasi Sejarah Islam dalam Ekspansi Kedaulatan Ekonomi
Sejarah Islam mencatat bahwa upaya mengurangi ketergantungan terhadap suatu pasar demi mencapai kedaulatan ekonomi telah diinisiasikan oleh Rasulullah SAW melalui pembangunan Pasar Madinah sebagai alternatif strategis terhadap dominasi pasar Bani Qainuqa. Langkah awal ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik, melainkan manifestasi awal dari strategi relokasi dan optimalisasi sistem perdagangan yang terencana. Dengan menetapkan kebijakan tanpa pajak (zero-tax) dan menghapus biaya sewa lapak, Rasulullah SAW berhasil menciptakan efisiensi biaya transaksi yang signifikan, di mana secara organik menarik para pelaku usaha untuk beralih dari ekosistem dominasi pasar yang restriktif menuju pasar yang lebih inklusif dan adil. Pendekatan ini membuktikan bahwa kemandirian ekonomi dapat dicapai melalui penciptaan keunggulan kompetitif dan penyediaan infrastruktur alternatif sehingga umat tidak terjebak dalam ketergantungan pada satu kekuatan ekonomi yang memiliki potensi manipulasi harga dan regulasi.
Relevansi historis tersebut memberikan landasan filosofis yang kuat bagi perdagangan Indonesia guna memitigasi risiko ketergantungan ekstrem Indonesia yang terkonsentrasi terhadap mitra dagang tunggal, sebagaimana Pasar Madinah berfungsi memutus rantai ketergantungan atau Single Point of Failure (SPOF) yang terjadi di masa lalu. Melalui diversifikasi tujuan ekspor ke mitra dagang baru, optimalisasi kerja sama regional, serta pemanfaatan peluang relokasi rantai pasok global ke dalam negeri, Indonesia dapat mereplikasi inspirasi positif “Pasar Madinah” di era modern untuk menghadapi tantangan ekonomi yang semakin multipolar. Langkah strategis ini tidak hanya bertujuan untuk menyeimbangkan neraca perdagangan, tetapi juga untuk menegakkan kedaulatan ekonomi nasional (Izzah) agar fundamental ekonomi domestik Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang kuat di tengah dinamika fragmentasi pasar global.
KESIMPULAN
Di tengah ketegangan geopolitik, Indonesia menghadapi risiko SPOF dalam perdagangannya akibat ketergantungan mitra dagang terhadap Tiongkok. Ketidakstabilan geopolitik, seperti perang dagang AS-Tiongkok dan blokade Selat Hormuz oleh Iran-AS, memicu potensi terjadi perlambatan ekonomi Tiongkok yang sekaligus juga berkontribusi negatif terhadap kelangsungan ekspor dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Konsentrasi ekspor pada komoditas seperti besi/baja, minyak mentah, nikel yang sebagian besar ditujukan ke Tiongkok mendorong kerentanan Indonesia terhadap fluktuasi permintaan hingga manipulasi harga komoditas dari market power yang dimiliki oleh mitra dagang tersebut.
Dengan demikian, Indonesia memerlukan tiga upaya strategis untuk menyelesaikan masalah tersebut. Pertama, diversifikasi negara tujuan ekspor ke pasar yang berpotensial, seperti Brazil dan Meksiko yang membutuhkan nikel dan besi/baja untuk bahan baku Industri EV. Kedua, penguatan kerja sama regional melalui perdagangan intra-ASEAN dengan memanfaatkan kebijakan ATIGA dan memposisikan Indonesia sebagai connector economy guna memperluas jangkauan akses pasar ke Vietnam, Thailand, dan Kamboja serta negara-negara yang membutuhkan ekspor migas, seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina. Ketiga, pemanfaatan peluang relokasi rantai pasok global dengan memperbaiki ekosistem investasi dengan penyederhanaan birokrasi, penurunan biaya logistik, serta pengembangan Kawasan Industri Strategis (KIS) guna mendorong Indonesia dapat bersaing secara global dan menarik investasi asing. Upaya strategis ini tidak hanya berlaku untuk ekonomi modern, tetapi juga sudah diimplementasikan jauh sejak perjalanan historis ekonomi Islam di era Rasulullah SAW yang memanifestasi penyelesaian masalah ketergantungan terhadap satu pasar dengan membangun Pasar Madinah untuk mengurangi risiko ketergantungan dan monopolisasi perdagangan sebagai langkah tepat mencapai kedaulatan ekonomi suatu negara. Maka dari itu, solusi permasalahan ini sangat relevan untuk dapat diterapkan dalam skala ekonomi global guna menguatkan ketahanan ekonomi di tengah kondisi ekonomi yang semakin terfragmentasi.
DAFTAR PUSTAKA
Adri, A. (2025, August 29). Biaya Logistik Indonesia Hampir Tiga Kali Lipat Rata-rata ASEAN. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/biaya-logistik-masih-tinggi-daya-saing-tertekan
Aiyar, S., & Ohnsorge, F. (2024). “Connector” countries in a geoeconomically fragmented world. CEPR. https://cepr.org/voxeu/columns/connector-countries-geoeconomically-fragmented-world
American Industrial Magazine. (2026). Research Reveals Mexico Is One of the Largest Steel Consumers in Latin America. Americanindustrialmagazine.com https://www.americanindustrialmagazine.com/blogs/machine-industries/research-reveals-mexico-is-one-of-the-largest-steel-consumers-in-latin-america
AVOLTA A1. (2026). GWM Bangun Pabrik di Brasil: 200 Ribu Unit per Tahun – Avolta.ID – Portal Otomotif Indonesia, elektrifikasi dan gaya hidup. Avolta.ID – Portal Otomotif Indonesia, Elektrifikasi Dan Gaya Hidup. https://www.avolta.id/cerita/2026/02/gwm-bangun-pabrik-di-brasil-200-ribu-unit-per-tahun/
Badan Pusat Statistik (BPS). (2026). Nilai Ekspor Migas Bulanan Menurut Negara Tujuan (Ribu US$). Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MjM4MiMy/nilai-ekspor-migas-bulanan-menurut-negara-tujuan–ribu-us–.html
Badan Pusat Statistik (BPS). (2026). Nilai Ekspor Nonmigas Bulanan Menurut Negara Tujuan (Ribu US$). Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MjM4MCMy/nilai-ekspor-nonmigas-bulanan-menurut-negara-tujuan–ribu-us–.html
Badan Teknologi Pertahanan, Kemenhan RI. (2020). Perang Dagang AS–Tiongkok: Dampak, Peluang, Tantangan dan solusi strategis bagi Indonesia. Kemhan.go.id. https://www.kemhan.go.id/batekhan/2025/04/16/perang-dagang-as-tiongkok-dampak-peluang-tantangan-dan-solusi-strategis-bagi-indonesia.html
Banga, R et al. 2020. RCEP: Goods Market Access Implications for ASEAN. Unit on Economic Cooperation and Integration among Developing Countries (ECIDC), GDS, UNCTAD.
Buban, S., Shrestha, R., & Putra, R. C. (2021). Impact of the ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) on Intra-ASEAN Trade. Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA).
China Raw Coal Production – June 2023 Data – 1989-2022 Historical – July Forecast. (n.d.). Tradingeconomics.com. https://tradingeconomics.com/china/coal-production
Darmawan, A. (2024). Bappenas Pasang Target PDB Biaya Logistik Turun ke 12% pada 2029 – Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres RI). Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres RI). https://wantimpres.go.id/id/newsflows/bappenas-pasang-target-pdb-biaya-logistik-turun-ke-12-pada-2029/
Dooley, K. (2002, January). elhacker.INFO – Descargas Cursos, Manuales, Tutoriales y Libros. Elhacker.info; O’Reilly Media. https://elhacker.info/manuales/OReilly%204%20GB%20Collection/O
Dovana Hasiana. (2024, March 24). Kebutuhan Nikel Dunia Lewati 4 Juta Ton 2040, Cadangan Aman? – Energi. Bloombergtechnoz.com; Bloomberg Technoz. https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/33394/kebutuhan-nikel-dunia-lewati-4-juta-ton-2040-cadangan-aman
Fadilah, Y., Tarman, & Faradila, F. (2025). Ekspor Tangguh, Neraca Perdagangan Indonesia Semester I 2025 Kembali Cetak Surplus [Review of Ekspor Tangguh, Neraca Perdagangan Indonesia Semester I 2025 Kembali Cetak Surplus]. In F. Khairunnisa (Ed.), BKPerdag (pp. 2–15). Badan Kebijakan Perdagangan. https://bkperdag.kemendag.go.id/storage/publikasi/PwqhpYcFr6dcAMefRlSRqv8n8r86AVspLt1C3QaR.pdf
Ferdianto, A. (2025a, July 30). Biaya Logistik RI Tertinggi di ASEAN, Kemenhub Dorong Integrasi Transportasi. Kontan.co.id; Kontan. https://industri.kontan.co.id/news/biaya-logistik-ri-tertinggi-di-asean-kemenhub-dorong-integrasi-transportasi
Ferdianto, A. (2025b, July 31). Biaya Logistik Indonesia Tertinggi di ASEAN, Asosiasi Logistik Ungkap Penyebabnya. Kontan.co.id; Kontan. https://nasional.kontan.co.id/news/biaya-logistik-indonesia-tertinggi-di-asean-asosiasi-logistik-ungkap-penyebabnya
GACC. (2026, April 8). Major Import Commodities in Quantity and Value,3.2026. Customs.gov.cn. http://english.customs.gov.cn/Statics/a33418ee-4917-448e-803c-9bcd912d0b61.html
Globalen LLC. (2026). Gasoline prices in Asia | GlobalPetrolPrices.com. GlobalPetrolPrices.com. https://www.globalpetrolprices.com/gasoline_prices/Asia/
IEA. (2026, April 14). Oil Market Report – April 2026 – Analysis – IEA. IEA. https://www.iea.org/reports/oil-market-report-april-2026
IEA (2025), Coal 2025, IEA, Paris https://www.iea.org/reports/coal-2025, Licence: CC BY 4.0
Kurniawan, G. (2026, April 18). Kronologi Krisis Selat Hormuz: Dari Serangan hingga Guncangan Pasar. CNBC Indonesia; cnbcindonesia.com. https://www.cnbcindonesia.com/research/20260418214243-128-727871/kronologi-krisis-selat-hormuz-dari-serangan-hingga-guncangan-pasar
Logitrack. (2025, September 26). Penyebab Tingginya Biaya Logistik di Vietnam. Logitrack Việt Nam. https://logitrackvn.com/id/penyebab-tingginya-biaya-logistik-di-vietnam
MSN. (2026). Msn.com. https://www.msn.com/id-id/berita/nasional/efek-perang-dagang-impor-dari-china-makin-membanjiri-pasar-dalam-negeri/ar-AA1GKaiq?ocid=finance-verthp-feeds
Muchlishon Rochmat. (2020). Nabi Muhammad Bangun Ekonomi Umat dengan Mendirikan Pasar. NU Online. https://nu.or.id/sirah-nabawiyah/nabi-muhammad-bangun-ekonomi-umat-dengan-mendirikan-pasar-lyNMp
NESDC. (2025). Thailand’s Logistics Report 2024. https://www.nesdc.go.th/wordpress/wp-content/uploads/2025/09/logistics-2567-Full-Report-ENG-F.pdf
OEC. (2026, April). Crude Petroleum in China | OEC. OEC – the Observatory of Economic Complexity. https://oec.world/en/profile/bilateral-product/crude-petroleum/reporter/chn
OECD. (2021). Kajian Kebijakan Investasi OECD INDONESIA 2020. https://www.oecd.org/content/dam/oecd/id/publications/reports/2020/12/oecd-investment-policy-reviews-indonesia-2020_be45a0c6/4f7e8fad-id.pdf#page=93.67
Patnaik, Ajay K. (2024). REGIONAL COOPERATION AND SUSTAINABLE STABILITY IN CENTRAL ASIA. In India and Inner Asia: Commerce, Culture and Connectivity (pp. 97–110). Taylor and Francis.
Rachman, A. (2025). Efek Perang Dagang Trump Muncul, RI Mulai Banjir Barang Impor China. CNBC Indonesia; cnbcindonesia.com. https://www.cnbcindonesia.com/news/20250604043301-4-638350/efek-perang-dagang-trump-muncul-ri-mulai-banjir-barang-impor-china
Reuters. (2023). China automaker BYD to invest $620 million in Brazil industrial complex. Reuters. https://www.reuters.com/business/autos-transportation/china-automaker-byd-invest-620-million-brazil-industrial-complex-2023-07-04/
Serin, R. A. (2025, November 29). Gempuran Barang Murah China Bawa Petaka di RI, Pemerintah Bertindak. CNBC Indonesia; cnbcindonesia.com. https://www.cnbcindonesia.com/news/20251129010643-4-689583/gempuran-barang-murah-china-bawa-petaka-di-ri-pemerintah-bertindak
Setiawan, V. N. (2025, November 5). Ekspor Batu Bara RI ke China Diprediksi Merosot Hingga 30-an Juta Ton. CNBC Indonesia; cnbcindonesia.com. https://www.cnbcindonesia.com/news/20251105155041-4-682600/ekspor-batu-bara-ri-ke-china-diprediksi-merosot-hingga-30-an-juta-ton
Setiawan, V. N. (2025, July 23). Ekspor Batu Bara RI ke China Turun, Ternyata Sudah Diprediksi. CNBC Indonesia; cnbcindonesia.com. https://www.cnbcindonesia.com/news/20250723152630-4-651595/ekspor-batu-bara-ri-ke-china-turun-ternyata-sudah-diprediksi
Sherman, N. (2026, April 2). A year on: Four ways Trump’s tariffs have changed the global economy. A Year On: Four Ways Trump’s Tariffs Have Changed the Global Economy. https://www.bbc.com/news/articles/c79j1rd92ypo
Simanjuntak, S. D. A. (2026, February 3). Rantai Pasok RI Makin Berat ke China, Lampu Kuning jika Terjadi Guncangan. Bisnis.com. https://ekonomi.bisnis.com/read/20260203/9/1949734/rantai-pasok-ri-makin-berat-ke-china-lampu-kuning-jika-terjadi-guncangan
Thailand Board of Investment. (2022). บอร์ดอีวี ปรับเกณฑ์ EV3 – EV3.5 จูงใจผลิตส่งออก เพิ่มประสิทธิภาพการอุดหนุน รับมือตลาดโลกผันผวน. One Start One Stop Investment Center (OSOS). https://osos.boi.go.th/EN/news/2228/Thailand-EV-Board-Adjusts-EV3-EV3-5-Terms-to-Promote-Export/
Theglobaleconomy. (2024). Indonesia Regulatory quality – data, chart | TheGlobalEconomy.com. TheGlobalEconomy.com. https://www.theglobaleconomy.com/Indonesia/wb_regulatory_quality/
The Observatory of Economic Complexity. (2026). Indonesia and China Trade. The Observatory of Economic Complexity. https://oec.world/en/profile/bilateral-country/idn/partner/chn?selector2825id=trade_i_baci_a_22
Tiago Devesa, Seong, J., White, O., Leung, N., Lamanna, C., & Joaquín Rebled. (2026). Geopolitics and the geometry of global trade: 2026 update. McKinsey & Company. https://www.mckinsey.com/mgi/our-research/geopolitics-and-the-geometry-of-global-trade-2026-update
Tradingeconomics. (2025). Nikel | 1993-2025 Data | 2026-2027 Perkiraan. Tradingeconomics.com. https://id.tradingeconomics.com/commodity/nickel
U.S. Geological Survey, Mineral Commodity Summaries,. (2024). Nickel. USGS. https://pubs.usgs.gov/periodicals/mcs2024/mcs2024-nickel.pdf
Widyatama, E. (2026, March 5). China Beri Peringatan Keras ke RI: Ekonomi Bakal Makin Susah. CNBC Indonesia; cnbcindonesia.com. https://www.cnbcindonesia.com/research/20260305150346-128-716333/china-beri-peringatan-keras-ke-ri-ekonomi-bakal-makin-susah
Zefanya Aprilia. (2025, July 7). China Diam-Diam Timbun Harta Karun RI Saat Perang Dagang. CNBC Indonesia; cnbcindonesia.com. https://www.cnbcindonesia.com/market/20250707130425-17-646879/china-diam-diam-timbun-harta-karun-ri-saat-perang-dagang