PENDAHULUAN
Magang kerap digambarkan sebagai ‘batu loncatan’ menuju karier impian, namun benarkah demikian, atau justru bisa menjadi ‘pintu jebakan’ yang menjerumuskan lulusan ke posisi lebih rendah di pasar kerja?
Magang umumnya dipahami sebagai program kerja sementara bagi mahasiswa atau lulusan baru untuk mendapatkan pengalaman kerja praktis sebelum masuk ke pasar kerja penuh waktu. Wacana kebijakan (mis. laporan Milburn 2009/2014 di UK) mengasumsikan bahwa magang, dibayar maupun tidak sama-sama meningkatkan employability lulusan. Asumsi ini bahkan dipakai untuk menolak RUU yang ingin melarang magang tanpa bayaran di parlemen Inggris. Sementara itu, literatur akademik justru lebih kritis: magang tanpa bayaran dicurigai sebagai bentuk eksploitasi dan penghambat mobilitas sosial, karena hanya bisa diakses mereka yang punya modal ekonomi/sosial cukup. Namun, kritik ini sendiri diam-diam mengandaikan bahwa magang tanpa bayaran tetap bermanfaat , hanya soal akses yang timpang. Penelitian ini mempertanyakan dua asumsi sekaligus: (1) apakah magang benar-benar meningkatkan peluang kerja, dan (2) apakah hanya akses ke magang tak berbayar yang bermasalah bagi mobilitas sosial.
METODE PENELITIAN
Penelitian menggunakan data yang berasal dari Creative Graduates’ Careers Survey, survei terhadap lulusan 12 perguruan tinggi Inggris di bidang seni kreatif-desain dan komunikasi massa, disurvei 2–6 tahun setelah lulus (kohort 2007/08, 2009/10, 2011/12), dengan 616 responden.
Tiga indikator hasil digunakan: (1) pekerjaan level sarjana (SOC major group 1–3), (2) pekerjaan kreatif, dan (3) pendapatan (dibagi 3 kelompok pendapatan + versi interval). Analisis memakai regresi logistik biner (untuk peluang kerja), regresi logistik ordinal dan OLS (untuk pendapatan), dengan kontrol variabel seperti usia, gender, etnis, latar belakang orang tua, lokasi, IPK, reputasi kampus, dan pengalaman magang saat kuliah. Pendekatan ini menguji apakah menambahkan variabel magang benar-benar memperbaiki model prediksi, bukan sekadar korelasi mentah.
HASIL PENELITIAN
Secara bivariat, magang berbayar maupun tak berbayar tampak sama-sama berasosiasi dengan pekerjaan level sarjana/kreatif. Tapi setelah kontrol variabel lain: magang berbayar signifikan meningkatkan peluang kerja level sarjana dan kreatif (odds ratio >2), sedangkan magang tak berbayar tidak signifikan sama sekali. Dalam pendapatan, hasilnya lebih tajam: magang berbayar menaikkan peluang berada di kelompok pendapatan lebih tinggi (odds ratio 2,28) dan setara tambahan £2.258 atau dalam rupiahnya Rp54.488,64 ; sebaliknya magang tak berbayar justru menurunkan peluang tersebut (odds ratio 0,41) dan berasosiasi dengan pendapatan £3.963 atau rupiahnya Rp95.630,88 lebih rendah, efek negatif yang bertahan bahkan setelah 2–6 tahun bekerja. Artinya, anggapan bahwa magang tanpa bayaran ‘setidaknya tidak merugikan’ ternyata keliru, data justru menunjukkan sebaliknya: magang tanpa bayaran memberi dampak negatif nyata terhadap pendapatan lulusan dalam jangka menengah
KESIMPULAN
Temuan ini menantang pandangan “stepping stone” yang selama ini mendominasi wacana kebijakan. Penulis menafsirkan hasil ini lewat lensa pasar kerja posisional (Brown & Hesketh): pekerjaan yang baik tidak dibagikan berdasarkan keterampilan semata (meritokrasi murni), melainkan berdasarkan penanda-penanda eksternal (positional markers), dan magang berbayar berfungsi sebagai penanda tersebut, sementara magang tak berbayar bisa memberi sinyal negatif ke pemberi kerja berikutnya. Ini juga berarti isu mobilitas sosial sebenarnya lebih terletak pada akses ke magang berbayar (yang lebih eksklusif dan kompetitif) ketimbang sekadar akses ke magang tak berbayar seperti yang selama ini jadi fokus kebijakan.
Kesimpulan penelitian ini menolak logika bahwa magang tak berbayar tetap “berharga” sebagai investasi keterampilan, data menunjukkan efeknya justru merugikan secara finansial dan tidak membantu peluang kerja. Temuan ini juga relevan untuk dikaitkan dengan prinsip ujrah dalam ekonomi Islam: akad kerja (ijarah) yang tidak mencantumkan kompensasi jelas berpotensi tidak memenuhi syarat keadilan kontraktual, dan secara empiris pun terbukti merugikan pihak yang bekerja. Dengan kata lain, argumen normatif syariah (larangan kerja tanpa upah yang jelas/zalim) dan argumen empiris ekonomi-tenaga kerja modern (Hunt & Scott, 2023) sama-sama mengarah pada satu rekomendasi: magang tanpa bayaran perlu dipertanyakan legitimasinya, baik dari sisi etika maupun dari sisi manfaat riil bagi mahasiswa.